Jumat, 20 April 2012

Izinkan aku mengumpat di belakang mu, kamu terlalu menakutkan di hadapan ku
Pernah sang kucing purnama lari memeluk tubuh ku, karena wajah mu kurasa begitu amarah
Sepotong roti ikut menjauh dari piring makan mu, ku saksikan di pagi buta saat semua penjagal masih terlelap dalam mimpi.Laskar yang kau sanjung saat penghukuman di tiang gantungan
Di saat kau berkhotbah tentang kezaliman yang kau anggap keadilan, padahal jauh di gubuk sana sang ibu yang diderai tangis kesedihan saat anaknya kau belenggu dengan kematian atau janda-janda yang meronta-ronta saat sang suami diseret penjaga menuju jeruji.Sungguh sebuah kamuflase yang kau ciptakan, kau tumbuhkan peradaban tirani di sini, sembari kau berpesta dengan gadis-gadis nakal disekeliling mu, mabuk dan tertawa-tawa.
 

Kamis, 19 April 2012

Indah bukan suram sayang
Kau melambai dari kejauhan
Berita tentang syurga ku rasa
Isyarat Boneka di Gerbang kereta

Terpaku aku hanya bisa
Membalas lambaian tak kuasa
Akhirnya kau berkata suram
Padahal itu adalah keindahan

Tenangkan saja jiwa mu sayang
Perbedaan dimensi takkan membuat kita terpisah
Di Ujung gerbang aku akan menanti
Kereta berhenti membawa mu kembali

Kembali dalam dimensi seharusnya kita sama
Ini keindahan yang ku maksud adanya
Bukan semata-mata spekulasi jiwa
Pahami saja situasi ini

Kita akan terlelap dalam mimpi
Tatkala terbangun aku akan memeluk mu erat
Bersama kucing si manis milik mu
Kami tersenyum saat itu

Percaya saja,
Hati mu takkan mati untuk ku
Begitu sebaliknya
Aku juga merasakan hal yang sama

Nikmati saja setiap detiknya
Sepotong kayu takkan menyiksa kematian
Bunga akan selalu bertaburan
Di bilik aku akan mengagetkan mu

Seperti waktu itu kita bermain petak umpet
Kau sembunyi dibalik tirai
Tergopoh aku mencari berjam-jam
Tapi aku selalu menemukan mu

Begitu seharusnya cerita kita
Selalu berwarna
Tinta dan kertas akan selalu ada
Saat aku menulis cerita cinta kita berdua
Percaya saja

Rabu, 11 April 2012

Penjajah Cinta

Kompeni cinta telah menjajah ku dalam buaiannya, mengerti kah begitu lembutnya prahara jenaka yang diikatkan dalam leher kehidupan ku, mengerti kah aku terjerat erat, mengerti kh?

Selasa, 10 April 2012

Tak ada bintang untuk malam ini, walau ada hanya sekilas saja, cahayanya mulai nampak, kalajengking pun berkhotbah tentang awan, langit dan bintang, tapi kawanan srigala melindasnya dalam buaian tanah, gelap hanya yang didapat denyut nadi, helaan nafas yang tersedu-sedu di teras belakang, memilukan suara senggama kenikmatan, padahal di luar iblis mengepakkan sayap cantiknya, memulai senggama bintang.

Rabu, 04 April 2012

Sekiranya tak tersentuh mimpi jiwa apa guna,sedang alam nyata telah menoreh jiwa,air mata yang menetes di pipi adalah air mata syurga,bukan sekedar prahara yang dimiliki negeri,tapi nada-nada cinta telah terpatri lama,khayal-khayal ku akan bunga kamboja di taman istana adalah syurga dalam dunia nyata,dan harapan-harapan pasti telah berekspansi untuk memulai senyum di pagi buta.

Senin, 02 April 2012

Suara perak telah bertutur hamba,damai sentosa ulasan canda.Malaikat kecil telah menyanyikan lagu cinta,sesekali kawanan kelinci biru mengintip di taman bunga,aduh riang bidadari bersanding dengan penguasa,lemah gemulai lentik tangan penari dan gemerincing gelang kaki,apakah masih ada angkara saat semua keindahan telah menjelma dalam nyata.

Selasa, 06 Maret 2012

Semu

Aku terlalu sibuk dengan dunia ku, sehingga ku lupa akan indahnya dunia mu.
Di atas rel kereta ku titipkan hasrat semu, terlindas dan musnah
sehingga tak ku dapati dunia ku, dan dunia mu hanyalah fatamorghana.

Rabu, 29 Februari 2012

Wajah-Wajah Derita

Hampir senja, sejenak menoleh mata ke barat
Telah nampak wajah-wajah kesedihan menanti
Bermesraan dengan bukit yang hampir berkabut
Hampir tiap hari, ku saksikan wajah-wajah itu
Seperti tak berhasrat hidup
Cinta telah membunuh mereka 
Kesunyian telah membalut mereka dengan jubahnya
Dan ini ku nikmati sendirian
Walau ku coba tuk sembunyi, menutup mata dengan jemari
Wajah-wajah itu terlihat lagi seperti hantu saja
Mengajak raga berdendang dengannya, menyaksikan senja dan menyambut gelapnya malam.Pada akhirnya jiwa mati walau raga tetap perkasa.
 

Firasat

Hujan pun turun di perempatn,dingin dan berangin
Seperti hati yang telah mati
Cinta telah membunuh raganya dengan pedang
Pengharapan cinta yang pupus,saat ku tahu hatinya tak mengiba pada ku.tapi aku akan tersenyum bahagia karena ku tahu firasat ku benar,dia munafik.

Sabtu, 18 Februari 2012

Orang Aneh

Hari ini,
Sebuah kata "aneh" untuk hati terulang kembali
Kata yang hilang bertahun-tahun
Kembali hadir dan bersemi dalam tumpukan mayat
Membuka kenangan yang tertimbun dalam kubangan
Sebuah caci-maki dewata ku pikir
Atau senandung iblis gila
Mengalir dalam lirik
Judul yang sempurna untuk sebongkah jiwa
Sedangkan ini fakta
Tak ada guna jiwa membela diri
Ini realita yang sempurna
Ku pasrahkan saja terhadap fenomena dewata ini
Ku bawa bersenandung dari pada harus kecewa
Dan Inilah aku yang terlahir dalam buaian syurga
Itu saja

Jumat, 03 Februari 2012

Sastrawan Jalanan


Saat ku berjalan,
Biarkan kabut membungkus ku dengan birahinya
Aku tak peduli

Berjalan saja                           Mentari nanti akan menuntun ku
Keluar dari kabut

Dari wajahnya, ku lihat itu
Senyum simpul harapan
Sebuah harapan kecerahan

Sastrawan jalanan
Kata mu teman
Ya, sastrawan jalanan
Kamu benar kawan

Sabtu, 28 Januari 2012

Pagi

Hilang sudah bayangan
saat pagi menyapa
tak ada hasrat malam merayu
telah lenyap diperhelatan

Takdir pun telah diukir lagi
Bukan takdir hari kemarin
dia berdetak untuk hari ini
Apakah esok akan binasa

Tak peduli siapa dan untuk apa
Semua bercerita tentang cinta
Dan kau berbicara lara
Tapi aku tak peduli

Inilah pagi
Bukan persoalan senja dan malam
Tak ada bayangan mimpi di sini
Kenyataan telah melambaikan sayapnya

Maka cukupkan saja di sini
Berita tentang gelap dan malam
Cerita tentang lara dan kegelisahan
Ceritakan saja apa yang terjadi pagi ini

Jumat, 27 Januari 2012

Musim Semi

Bukan tentang kemarau
Bukan tentang gerimis hujan
Di sini bunga sepatu bermekaran
dan bunga sakura tengah melambaikan tangannya dari kejauhan

Selasa, 24 Januari 2012

Kebenaran

Beri warna untuk kabut
putih atau hitam,bahkan pelangi sekali pun
Itu tentang persepsi
Terserah siapa yang mengukir tinta ditubuhnya
Saat terungkap,bidadari akan menari di taman langit
Mahkota raja pun terjatuh dipangkuan kaum ploriter
Jangkrik-jangkrik akan bersenandung tentang kemerdekaan
Bahkan malaikat menyucurkan air matanya
Tak ada stagnasi pemikiran
Selalu dinamis menghilangkan statis
Masih tentang persepsi
Mengukir warna kabut, hitam atau putih bahkan pelangi sekali pun

Minggu, 22 Januari 2012

Sebatang Rokok

Terakhir, kulihat kau terbungkus dengan candu
Bersama kopi si sahabat pagi mu
Bercanda di beranda
Lepas dan bebas 

Menari bersama saat kau berjalan di awan
Hingga petang pun kau tetap sama
Selalu begitu, begitu selalu
Tertawa-tawa membuat gumpalan awan

Di ladang sang nyonya sementara
Memetik tembako
Bersama jarum-jarum mesin meracik dan membalut 
Untuk mu dengan mesra dan keindahan

Walau akhirnya
Kau kembali di beranda
Bersama sahabat mu kopi dan bapak tua

Jumat, 20 Januari 2012

Menunggu di Bilik

Sementara aku rindu
Menunggumu di bilik ini sendirian
Berjam-jam, berhari-hari, berminggu-minggu
Tapi kau tak pernah datang 
Menemuiku di bilik ini
Aku rindu wajah mu di bilik ini

Bosan

Gairah hidup ku telah hilang melayang
Keterasingan asa ku berharap ada di kesunyian sendirian
Mati dan hidup lagi
Begitu seterusnya sampai aku berkata
Aku mencintai mu di beranda ini

Terasing

Sayang aku tersesat dalam gelap
Tak ada suara dan cahaya mu di sana
Apakah telah menghilang melodi-melodi asmara yang kau lantunkan
Kecapi mu telah rusak atau hilang dalam gelap

Padahal aku berada di kota
Lebih ramai dari desa dan hutan
Tapi kau tak pernah ada kata ku
Orang-orang telah lama mati kata mu

Buang Sial

Buang sial,
Mandi saja dengan kembang 
Sambil luluran dengan kemenyan 
di Tengah malam

Tapi Awas...!!tipu daya dukun cabul
Cari yang berkelas seperti dukun artis
dukun pejabat juga boleh
untuk buang sial kata mu 

Rabu, 18 Januari 2012

Kembali Ke Beranda

Ini sudah petang
Bukit hampir menghilang sayang
Rumputnya lenyap di sabotase para domba 
Maka pulang saja

Tak ada pesta di bukit untuk malam ini
Mentari senja mulai berkedip-kedip
Matanya bukan terlalap debu
Tapi awan malam akan segera membungkusnya

Pulang saja sayang
Kursi kayu telah menunggu mu dari tadi
Sudah dua minggu dia kau telantarkan
Hampir patah dan berayap